Senin, 13 Februari 2012

Analisis Kesalahan Berbahasa (Proyek Gagal, :D)

2.3 Kesalahan Berbahasa 2.3.1 Pengertian Kesalahan Berbahasa Kesalahan adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku (norma terpilih) dari performansi bahasa orang dewasa (Dulay dikutip oleh Tarigan dan Tarigan, 2011:126). Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:6) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa ialah penyimpangan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kesalahan itu termasuk yang berhubungan dengan ejaan, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa adalah penyimpangan dalam penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Dalam perkembangan anak, tentunya anak mempunyai ragam kesalahan berbahasa dalam proses perkembangan pemerolehan bahasanya. 2.3.2 Jenis Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa atau language errors memang berbagai macam jenisnya dan dapat dikelompokkan dengan berbagai cara sesuai dengan cara kita memandangnya. Chomsky (dikutip oleh Tarigan dan Tarigan, 2011:127) mengelompokkan kesalahan berbahasa menjadi dua jenis, yaitu: 1) kesalahan yang disebabkan oleh faktor-faktor kelelahan, keletihan, dan kurangnya perhatian atau disebut “faktor performansi”. Kesalahan performansi ini, yang merupakan kesalahan penampilan, dalam beberapa kepustakaan disebut mistakes. 2) kesalahan yang diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai kaidah-kaidah bahasa atau disebut “faktor kompetensi”. Kesalahan tersebut merupakan penyimpangan-penyimpangan sistematis yang disebabkan oleh pengetahuan pelajar yang sedang berkembang mengenai bahasa kedua yang disebut errors. Secara garis besar besar, kesalahan berbahasa dibedakan atas dua jenis, yaitu: 1) kesalahan antarbahasa (interlingual error), yaitu kesalahan yang disebabkan oleh interfensi bahasa ibu (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang dipelajari. 2) kesalahan intrabahasa (intralingual error), yaitu kesalahan yang merefleksikan unsur ciri umum kaidah yang dipelajari, seperti kesalahan generalisasi, aplikasi tidak sempurna terhadap kaidah-kaidah, dan kegagalan mempelajari kondisi penerapan-penerapan. (Tarigan dikutip olehYuniarti, 2006:7) 2.3.3 Taksonomi Kesalahan Berbahasa Menurut Tarigan (2011:129) ada empat pengklasifikasian atau taksonomi bagi kesalahan-kesalahan berbahasa, yaitu taksonomi kategori linguistik, taksonomi siasat permukaan, taksonomi komparatif dan taksonomi efek komunikatif. Keempat taksonomi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Taksonomi kategori linguistik adalah pengklasifikasian kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen linguistik atau unsur linguistik tertentu, yaitu fonologi (ucapan pada bahasa lisan dan ejaan pada bahasa tulisan), morfologi (afiksasi dan perulangan kata), sintaksis (frasa, klausa, kalimat), dan leksikon atau pilihan kata. 2) Taksonomi siasat permukaan menyoroti bagaimana cara struktur-struktur permukaan berubah, meliputi penghilangan, penambahan, salah formasi dan salah susun. 3) Taksonomi komparatif didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan bahasa kedua dan tipe-tipe konstruksi tertentu lainnya. Taksonomi ini meliputi kesalahan perkembangan, kesalahan antarbahasa, kesalahan taksa, dan kesalahan lainnya. 4) Taksonomi efek komunikasi memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dan perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca. Pusat perhatian tertuju pada pembedaan antara kesalahan-kesalahan yang seolah-olah menyebabkan salah komunikasi dan yang tidak menyebabkan salah komunikasi. 2.3.3.1 Taksonomi Kategori Linguistik Taksonomi kategori linguistik mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen linguistik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan, ataupun berdasarkan keduanya (Tarigan dan Tarigan, 2011:129). Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:8) mengemukakan bahwa “Kesalahan berbahasa dalam lingkup linguistik adalah kesalahan bahasa yang mencakup ejaan, morfologi, sintaksis, dan leksikon”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesalahan kategori linguistik adalah kesalahan bahasa yang dilihat dari unsur-unsur linguistik yaitu ejaan, morfologi, sintaksis, dan leksikon. 2.3.3.1.1 Kesalahan Ejaan Kesalahan ejaan adalah kesalahan bahasa yang meliputi kesalahan penulisan seperti penulisan huruf kapital, penulisan kata yaitu penulisan kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata, kata ganti, partikel, angka dan lambang bilangan, unsur serapan, dan penggunaan tanda baca (Pateda dikutip oleh Yuniarti, 2006:9). Contoh Kesalahan Ejaan: 1) Kesalahan penulisan kata karena penggunaan huruf yang salah Ditulis Seharusnya kami makan siang di warung. Kami makan siang di warung. Marta akan datang hari senin nanti. Marta akan datang hari Senin nanti. Jaka belajar Bahasa Daerah Minang Jaka belajar bahasa daerah Minang 2) Kesalahan penulisan kata karena kekurangan huruf Ditulis Seharusnya sdah sudah mengambar menggambar setenga setengah 3) Kesalahan penulisan kata karena kelebihan huruf Ditulis Seharusnya sayah saya menggambil mengambil berserih berseri 4) Kesalahan penulisan kata dasar karena pengaruh bahasa Indonesia ragam lisan Ditulis Seharusnya tigo tiga mengapo mengapa kemaren kemarin 5) Kesalahan penulisan kata turunan karena pengaruh afiksasi ragam lisan Ditulis Seharusnya masukke masukkan biarke biarkan ngulitin menguliti 6) Kesalahan penulisan gabungan kata karena pemisahan dua unsur kata Ditulis Seharusnya dari pada daripada antar warga antarwarga olah raga olahraga 7) Kesalahan penulisan kata ganti karena pemisahan dan penggabungan Ditulis Seharusnya Kami sedang mengunjungi kakak ku. Kami sedang mengunjungi kakakku. Buku ini harus ku antarkan ke sekolah. Buku ini harus kuantarkan ke sekolah. Hadiah ini harus kauambil. Hadiah ini harus kau ambil. 8) Kesalahan penulisan partikel Ditulis Seharusnya Jika saya pergi, diapun pergi. Jika saya pergi, dia pun pergi. Kita harus masuk satu persatu. Kita harus masuk satu per satu. Baca lah buku itu! Bacalah buku itu! 9) Kesalahan penulisan angka dan lambang bilangan Ditulis Seharusnya Kucingnya ada 2 ekor. (bukan rincian) Kucingnya ada dua ekor. Saya adalah anak ke 2. Saya adalah anak kedua. Jumlah penduduk kota kami sebanyak 1896 jiwa. Jumlah penduduk kota kami sebanyak 1.896 jiwa. 10) Kesalahan penggunaan tanda baca Ditulis Seharusnya Arya sedang membaca Arya sedang membaca. Saya membeli buku, pensil dan mistar. Saya membeli buku, pensil, dan mistar. Siapa namamu. Siapa namamu? 2.3.3.1.2 Kesalahan Morfologi Kesalahan morfologi adalah kesalahan memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bentuk kata (Tarigan dikutip oleh Yuniarti, 2006:12). Sedangkan Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:12) menyatakan bahwa kesalahan morfologi adalah kesalahan pada bidang tata bentuk kata. Hal ini menyangkut masalah kosa kata. Kesalahan morfologi juga menyangkut kesalahan penggunaan afiks, kesalahan penggunaan kata ulang, dan kesalahan kata majemuk. Contoh Kesalahan Morfologi: 1) Kesalahan afiks Ditulis Seharusnya Ayah berkerja sebagai buruh bangunan. Ayah bekerja sebagai buruh bangunan. Kakak sedang menyuci piring. Kakak sedang mencuci piring. Tiara sedang mensapu halaman. Tiara sedang menyapu halaman. 2) Kesalahan kata ulang Ditulis Seharusnya Kayu itu dipotong semeter-meter. Kayu itu dipotong semeter-semeter. Kami berlari2 di jalan. Kami berlari-lari di jalan. Kami sekali-kali menoleh ke belakang. Kami sekali-sekali menoleh ke belakang. 3) Kesalahan penulisan kata majemuk Ditulis Seharusnya Nikita di rawat di rumahsakit. Nikita dirawat di rumah sakit. Kakak membeli sapu tangan baru. Kakak membeli saputangan baru. Mata hari sangat panas. Matahari sangat panas. 2.3.3.1.3 Kesalahan Sintaksis Tarigan (dikutip oleh Yuniarti, 2006:13) menyatakan bahwa kesalahan sintaksis adalah kesalahan berbahasa ditinjau dari segi kalimat, seperti kesalahan menyusun kalimat, kesalahan penggunaan konjungsi, menggunakan kalimat yang tidak efektif, dan menghilangkan bagian kalimat tertentu. Sedangkan kesalahan sintaksis menurut Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:13) adalah sebagai berikut. Kesalahan sintaksis adalah kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan kalimat, yaitu kalimat yang strukturnya tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang digunakan dalam kalimat tidak tepat, kontaminasi kalimat, kalimat mubazir, kesalahan pemakaian kata serapan dalam kalimat, dan kalimat yang tidak logis. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalahan sintaksis adalah kesalahan yang berhubungan dengan kesalahan pada kalimat. Kesalahan tersebut misalnya kesalahan pada struktur kalimat, kalimat tidak efektif atau tidak jelas, kalimat tidak logis dan kesalahan menggunakan kata serapan. Contoh Kesalahan Sintaksis: 1) Kesalahan frasa Ditulis Seharusnya ini malam malam ini itu orang orang itu ini hari hari ini 2) Kesalahan klausa Ditulis Seharusnya Jangan penjelasannya panjang lebar. Penjelasannya tidak boleh panjang lebar. Rudi punya robot mainannya sudah rusak. Robot mainan Rudi sudah rusak. 3) Kesalahan kalimat Ditulis Seharusnya Bagi kita diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba. Kita diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba Dia tidak hadir oleh karena disebabkan dia sakit. Dia tidak hadir karena sakit. Pembuatan tape itu saya dibantu oleh ibu saya. Dalam pembuatan tape itu, saya dibantu oleh ibu. 2.3.3.1.4 Kesalahan Leksikon Kesalahan leksikon adalah kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan kosa kata, yaitu kesalahan memakai kata yang tidak atau kurang tepat, termasuk pemakaian kata yang tidak baku (Tarigan yang dikutip oleh Yuniarti, 2006:14). Yuniarti (2006:14) juga mengutip pendapat Pateda yang menyatakan bahwa kesalahan leksikon adalah kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan pemakaian kata-kata yang tidak baku atau kosa kata yang menyimpang dari daftar kata baku (kamus). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalahan leksikon adalah kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan pemakaian kosa kata yang tidak atau kurang tepat dan tidak baku. Contoh Kesalahan Leksikon: Ditulis Seharusnya Saya sudah mengasih tahu dia masalah itu. Saya sudah memberi tahu dia masalah itu. Kami bakal pergi ke bioskop. Kami akan pergi ke bioskop. Rina suka makan kue bikinan saya. Rina suka makan kue buatan saya. 2.4 Analisis Kesalahan Berbahasa 2.4.1 Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa Ellis dalam Tarigan dan Tarigan (2011:60) mengemukakan bahwa analisis kesalahan berbahasa (Anakes) adalah suatu prosedur kerja yang melipiuti pengumpulan sampel, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam sampel, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan tersebut. Menurut Kridalaksana (dikutip oleh Yuniarti, 2006:5) “Analisis kesalahan berbahasa adalah teknik untuk mengukur kemajuan belajar dengan mencatat dan mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang dibuat seseorang atau kelohmpok.” Sedangkan analisis kesalahan berbahasa yang dikemukakan oleh Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006: 5) adalah suatu teknik untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara sistematis kesalahan-kesalahan bahasa yang dibuat oleh si terdidik yang sedang belajar bahasa kedua yang menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur berdasarkan linguistik. Berdasarkan pendapat-pendapat yang disampaikan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur sistematis yang dilakukan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, menginterpretasi, sekaligus mengevaluasi kesalahan-kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh anak. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kemampuan anak dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 2.4.2 Tujuan Analisis Kesalahan Berbahasa Sridhar (dikutip oleh Tarigan dan Tarigan, 2011:61-62) menyatakan bahwa analisis kesalahan memiliki tujuan sebagai berikut. 1) Menentukan urutan penyajian hal-hal yang diajarkan dalam kelas dan buku teks, misalnya urutan mudah-sulit. 2) Menentukan jenjang relatif penekanan, penjelasan, dan latihan berbagai hal bahan yang diajarkan. 3) Merencanakan latihan dan pengajaran remedial. 4) Memilih hal-hal bagi pengujian kemahiran siswa. Tujuan analisis kesalahan berbahasa singkatnya bersifat teoritik-aplikatif. Tujuan Anakes yang bersifat teoritik yaitu penyusunan atau pengembangan teori penjelasan mengenai performansi siswa, karena pengkajian terhadap pemerolehan bahasa anak-anak dapat memberikan pemahaman ke arah proses pemerolehan bahasa secara umum. Sedangkan tujuan Anakes yang bersifat aplikatif yaitu memperbaiki dan mengurangi kesalahan berbahasa siswa. Tujuan akhir dari Anakes adalah mencari umpan balik yang dapat digunakan sebagai titik tolak perbaikan pengajaran bahasa, yang pada gilirannya dapat mencegah atau mengurangi kesalahan yang mungkin dilakukan para siswa (Tarigan dan Tarigan, 2011:64,69). 2.5.3 Metodologi Analisis Kesalahan Berbahasa Sebagai suatu prosedur kerja, Anakes mempunyai langkah-langkah tertentu. Langkah-langkah inilah yang kemudian disebut sebagai metodologi Anakes. Dalam bukunya Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, Tarigan dan Tarigan mengambil pendapat dari Ellis mengenai metode Anakes, yakni sebagai berikut. 1) Mengumpulkan sampel kesalahan. 2) Mengidentifikasi kesalahan. 3) Mengklasifikasikan kesalahan. 4) Menjelaskan kesalahan. 5) Mengevaluasi kesalahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar